Sikap Saling Memahami Antara Islam dan Barat (V)

April 6, 2021, oleh: superadmin

OLEH AHMAD STAFII MAARIF

Sumber: republika.co.id

Sekalipun jumlah umat Islam sedunia sudah 1,6 miliar, karena minus kualitas, jumlah besar itu justru bisa menjadi beban dan malah penderitaan yang harus ditanggungkan. Bahkan, pada beberapa bangsa Muslim, tingkat buta huruf rakyatnya masih tinggi.

Selama dunia Muslim belum terangkat, sulit kita berharap pihak lain menghargai dan menempatkan kita setara. Perasaan hina dan tidak dihargai inilah yang menyebabkan sebagian kita membenci pihak lain, tak jarang dilakukan atas nama agama.

Barat yang angkuh karena merasa roda peradabannya di atas, tak bisa diharapkan menolong kita. Bahkan, semakin dunia Muslim terpuruk, kian puas mereka. Namun, sejak pertengahan abad ke-20, ada sarjana Barat mau berpikir jernih meneropong dunia Islam.

Ada tiga nama, sebenarnya masih ada yang lain, yang perlu disebut dalam artikel ini: Wilfred C Smith (Kanada), Karen Armstrong (Inggris), dan teolog Hans Kung (Swiss). Sarjana Barat yang menjadi Muslim tak perlu dibicarakan di sini, jumlahnya semakin banyak.

Wilfred C Smith (1916-2000), pakar perbandingan agama dan pendiri Studi Islam di Universitas McGill, Kanada. Karya tulisnya yang banyak dikutip di antaranya Islam in Modern History (Princeton: Princeton University Press, 1957).

Kita baca pandangannya dalam buku itu, “Kita akan berpendapat, sebuah Islam yang sehat, berkembang, tidak saja penting bagi umat Muslim, tetapi juga untuk dunia seluruhnya sekarang ini. Sebagian politisi dan pemimpin Barat khususnya, terlihat buta terhadap masalah ini.” (hlm 304).

Menurut Smith, “Kelemahan mendasar dari keduanya [peradaban Barat dan agama Kristen] adalah ketidakmampuan mereka mengakui bahwa mereka berbagi planet ini bukan dengan pihak yang lebih rendah, tetapi dengan pihak yang sederajat. Kalau peradaban Barat secara intelektual dan sosial, politik, dan ekonomi, serta gereja Kristen secara teologis tidak mau belajar memperlakukan pihak orang lain dengan penuh hormat, keduanya pada gilirannya akan gagal berurusan dengan kenyataan-kenyataan yang sebenarnya di abad ke-20.” (hlm 305).

Karen Armstrong (1944—) menguatkan pandangan Smith, “Realitas menunjukkan, Islam dan Barat berbagi tradisi yang sama. Sejak masa Nabi Muhammad, umat Muslim mengakui ini, tetapi Barat tidak bisa menerimanya. (Lih Karen Armstrong, Muhammad: A Biography of the Prophet. New York: Harper Collins, 1993, hlm. 266).

Akibat sikap Barat yang angkuh, tulis Armstrong, “Sebagian umat Muslim sekarang mulai menentang kebudayaan ahli kitab, yang telah menghina dan merendahkan mereka. Mereka bahkan mulai mengislamkan kebencian baru mereka itu…Jika Muslim memang dipandang perlu memahami tradisi dan lembaga-lembaga Barat kita secara mendalam sekarang ini, kita di Barat perlu pula membebaskan diri kita sendiri dari sikap prasangka kuno kita.”

“Barangkali langkah awal untuk berangkat adalah dari tokoh Muhammad: seorang manusia yang kompleks, penuh semangat yang terkadang melakukan hal-hal yang sukar kita terima, tetapi memiliki kecerdasan kreatif yang luar biasa [genius] untuk sebuah ketertiban yang mendalam. Mendirikan agama dan tradisi budaya yang tidak didasarkan pada pedang–meskipun itu mitos Barat–dan yang namanya ‘Islam’ itu berarti damai dan rukun.” (Ibid.).

Adanya Tragedi 11 September 2001, sebagaimana disinggung dalam Resonansi sebelum ini, orang Barat bersumbu pendek langsung menuduh teror itu sesuai ajaran Islam, padahal pelakunya segelintir manusia  putus asa disertai mentalitas kalah. Tuduhan ini jahat.

Teolog Hans Kung (1928—-) memberikan pandangannya terkait tragedi itu, “Bagi agama Kristen dan bagi agama Islam, ‘tidak ada agama atau sistem etis yang harus pernah dikutuk karena kesalahan dan penyimpangan moral dari segelintir pengikutnya. Jika saya, sebagai seorang Kristen, misalnya, tidak ingin iman saya dihukum oleh perbuatan pelaku Perang Salib atau inkuisisi, saya harus sangat berhati-hati untuk tidak menghukum iman orang lain disebabkan perbuatan sejumlah teroris yang mungkin berbuat atas nama [iman] itu’.” (Lih. Hans Kung, Islam, Past, Present & Future, terj dari bahasa Jerman oleh John Bowden. Oxford: Oneworld Publications, 2009, hlm 658).

Seperti ditegaskan di alinea terakhir Resonansi I, kemanusiaan itu tunggal dan barat, timur, utara, selatan hanyalah dinding artifisial karena semuanya milik Allah, maka hubungan Islam dan Barat harus dibaca dalam perspektif kesemestaan Ilahiah ini.

Bait puisi penyair Inggris Rudyard Kipling (1865-1936) yang biasa dikutip dua baris awal saja menyatakan, “…East is East, and West is West, and never The twain shall meet…” (Timur adalah Timur, dan Barat adalah Barat, dan keduanya tidak akan pernah bertemu).

Nuansa rasisme terasa di dalamnya, sekalipun mungkin maksudnya bukan itu. Terlepas tafsiran kita terhadap Kipling, keangkuhan karena batas lokasi geografi, agama, ras, etnisitas, dan warisan sejarah harus ditumbangkan sekali dan untuk selama-lamanya.

Pengikut Nabi Musa, Nabi Isa, Nabi Muhammad sebagai pewaris Nabi Ibrahim dan pengikut pendiri agama besar lainnya mesti bergandeng tangan menuju cita-cita mulai ini: kemanusiaan adalah tunggal. Planet bumi buat semua. Siapa pun tak berhak memonopolinya!