Sikap Saling Memahami Antara Islam dan Barat (IV)

Maret 30, 2021, oleh: superadmin

OLEH AHMAD SYAFII MAARIF

Sumber: republika.co.id

Makna terdalam dari ayat 40 surat al-Hajj itu, tak seorang pun punya hak menghalangi pihak lain untuk menjalankan ibadah dan ritual keagamaan menurut agama dan kepercayaannya masing-masing.

Karena itu, tindakan pengrusakan tempat-tempat ibadah dari agama yang beragam, sama artinya dengan pengkhianatan terhadap ketentuan Allah dalam Alquran.

Mufasir Hamka, mengulas makna ayat 40 surat al-Hajj seperti telah dikutip dalam Resonansi lalu, berikut ini: “Sebab yang dapat seruan dalam ayat ini ialah kaum Muslimin, maka dijelaskanlah bahwa pertahanan ini bukan semata-mata buat mempertahankan masjid-masjid tempat orang Islam bersembahyang. Bahkan juga untuk mempertahankan biara-biara (klooster) yang di sana para pendeta laki-laki atau pendeta perempuan mengasingkan diri ada yang bertahun-tahun, ada yang seumur hidup.”

“Demikian juga gereja yang didatangi orang Kristen yang taat buat mendengar khutbah keagamaan, dari pendeta-pendeta mereka tiap-tiap hari Ahad. Demikian juga tempat beribadat orang Yahudi yang mereka namai Tabermacle. Di sana, mereka berkumpul mengulangi-ulangi ajaran kitab Taurat tiap hari Sabtu. Di belakang itu baru disebut masjid.” (Lih Hamka, Tafsir al-Azhar, Juz XVII. Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982, hlm 175).

Ketentuan Alquran terang benderang dalam masalah tempat ibadah ini tetapi segelintir orang yang mengaku Muslim tidak mau hirau dengan ayat itu. Pengrusakan masih saja terjadi. Tidak jarang disertai teriakan Allahu Akbar!

Ini bagian dari mentalitas paranoid (perasaan tidak aman) dari orang yang sakit jiwa. Jiwa yang tidak sehat ini, bahkan dicarikan dalil agama untuk membenarkannya.

Memang sulit menyadarkan anggota umat lebih arif, dewasa, dan percaya diri ketika posisi sejarah mereka masih berada di pinggir peradaban. Mengidap mentalitas kalah menjadi salah satu sebab kadar iman emosional sering mengalahkan kekuatan akal sehat.

Situasi semacam ini,diperparah lagi kondisi ekonomi yang labil. Mereka mudah sekali menjadi mangsa para demagog (penghasut) berbuat makar atas nama agama. Fenomena ISIS, Boko Haram, dan gerakan teror yang melanda sebagian negara harus dibaca dalam perspektif ini.

Sementara itu, pihak Barat sering menangguk di air keruh ini untuk tujuan-tujuan politik hegemoni mereka. Dukungan Amerika, misalnya, terhadap serangan brutal militer Arab Saudi atas Yaman yang miskin adalah bagian tak terpisahkan dari kepentingan politik global dari negara adikuasa itu.

Dengan terpilihnya Joe Biden sebagai presiden Amerika ke-46, apakah politik luar negeri Amerika akan bersifat lebih arif, longgar, dan tidak semau gue lagi? Harus kita tunggu dulu.

Adalah Presiden George W Bush dulu yang menyamakan Islam dengan terorisme setelah dua menara kembar di Pusat Perdagangan Manhattan, New York, pada 11 September 2001 dihancurkan kaum teroris Arab dengan membajak empat pesawat jet penumpang, lalu dibenturkan dengan menara itu.

Sejak itu, perang terhadap terorisme telah menjadi agenda besar beberapa negara di dunia, termasuk Indonesia.

Akibat perbuatan jahat sekelompok kecil teroris itu, pihak Barat dengan semena-mena kemudian menjadikan Islam sebagai agama tertuduh, sumber keonaran global. Agama jahat, antikemanusiaan, dan 1.001 bentuk cacian lain terhadap Islam.

Sekalipun sebagian besar anggota teroris yang berjumlah 19 itu adalah warga Saudi, Amerika tetap saja tidak menghukum Saudi. Justru yang menjadi sasaran tempur Barat pimpinan Amerika adalah Afghanistan yang dikatakan sebagai pusat terorisme dunia karena tokoh Alqaidah, Usamah bin Ladin, warga Saudi dan mantan sahabat Amerika, menjadikan negara miskin terbelakang itu sebagai pusat gerakan teror.

Afghanistan hancur lebur, kemudian disusul kehancuran Irak di era Saddam Husein yang dituduh Amerika sebagai negara yang telah menggunakan senjata pemusnah massal-WMD (weapons of mass destruction) selama Perang Irak-Iran (1980-1988).

Setelah diteliti, tuduhan Amerika ini sama sekali tidak terbukti, tetapi Irak menjadi lumpuh total dan Presiden Saddam Hussein yang otoritarian itu akhirnya dihukum gantung pada 30 Desember 2006. Suriah juga hancur akibat perang saudara dengan campur tangan negara-negara lain.

Dengan drama dan tragedi yang menimpa beberapa bangsa berpenduduk mayoritas Muslim itu, Barat dengan mudah saja mengaitkannya dengan Islam sebagai penyebab utamanya.

Maka, pertanyaan kuncinya kemudian, bagaimana selanjutnya hubungan Islam dan Barat, apakah dibiarkan semakin memburuk atau ada kemungkinan dicarikan solusi untuk saling memahami? Seri kelima Resonansi ini akan mencoba menjawabnya.