Sikap Saling Memahami antara Islam dan Barat (3)

Maret 23, 2021, oleh: superadmin

OLEH AHMAD SYAFII MAARIF

sumber: www.republika.id

Oleh sebab itu, jangan cepat percaya kepada penguasa mana pun, sekalipun mendapat pembenaran dan dukungan dari lembaga-lembaga keagamaan. Mungkin boleh saya katakan dalam kalimat pendek bahwa dalam istana yang sangat mewah itu fenomena gundik, intrik, dan mistik bukan rahasia lagi.

Ironisnya, dinding istana ini juga dihiasi oleh ayat-ayat Alquran untuk menunjukkan bahwa pemiliknya adalah Muslim. Maka semakin jelaslah oleh puan dan tuan bahwa Islam telah lama jadi mainan penguasa. Sistem model ini pulalah yang mau dihidupkan lagi di era sekarang oleh kelompok yang buta sejarah.

Menurut catatan Akbar Ahmed, semua sultan Turki Usmani yang perkasa itu menghabiskan waktunya di lingkungan pergundikan yang penghuninya bisa melebihi 1.000 perempuan, dijaga oleh kasim (lelaki yang dikebiri, eunuchs) berkulit hitam yang punya masjid tersendiri. Para gundik muda usia di Istana Topkapi itu didatangkan dari Cina, Maroko, Eropa, dan Persi (hlm. 74-75).

Umumnya berasal dari keluarga terhormat. Mereka mau mengadu nasib ke sana dengan sebuah mimpi siapa tahu di antara mereka ada yang akan jadi ibu sultan Imperium Turki Usmani berikutnya sebagai “one of the most powerful men on earth” (salah seorang yang paling berkuasa di muka bumi), tulis Akbar Ahmed pada hlm. 75.

Agak panjang kita bicarakan faktor sejarah yang mewarnai hubungan Islam dan Barat dalam rentangan waktu berabad-abad. Ternyata fakta sejarah atau tafsiran terhadap fakta sejarah yang kemudian mengendap dalam ingatan kolektif manusia terus saja dipelihara. Para sejarawan punya minat besar dalam pelestarian kejadian sejarah ini.

Semua bangsa melakukan cara serupa ini, tidak peduli apa pun agama atau ideologi politiknya, untuk tujuan baik atau pun tujuan buruk. Sejarah pergundikan juga tidak luput dari perhatian penulis sejarah.

Sekarang kita beralih ke masalah yang lebih serius dan abstrak: teologi. Pihak Kristen dan pihak Muslim sama-sama terlibat dalam “perang” teologi ini. Sampai abad ke-21 ini hanyalah dalam jumlah yang sangat terbatas intelektual dan umat Kristen yang bersedia mengakui bahwa Muhammad itu seorang nabi yang mendapat wahyu dari Allah, sebagaimana para nabi dan rasul sebelumnya. Sebaliknya bagi setiap Muslim beriman kepada para nabi dan para rasul sebelum Muhammad punya dasar dan pijakan teologi yang sangat kuat.

Ayat-ayat Alquran tentang hal itu terdapat di berbagai tempat. Kita kutip satu saja dalam surat al-Baqarah ayat 4: “Dan orang-orang beriman kepada apa yang diturunkan kepada engkau [Muhammad] dan apa-apa yang diturunkan sebelum engkau. Dan kepada akhirat mereka yakin.” Dalam teologi Islam, risalah kenabian itu merupakan satu kesatuan, tidak boleh dipisahkan. Jika mau dibedakan, sebagian nabi dan rasul terdahulu itu hanya diutus untuk kaum tertentu.  Muhammad sebagai nabi terakhir diutus untuk seluruh manusia.

Tetapi dalam perkembangannya, berbeda dengan agama Yahudi yang tidak giat menambah pengikut, agama Kristen dan agama Islam adalah missionary religions (agama dakwah) yang berlomba-lomba menambah penganut baru. Perlombaan itu terjadi di mana-mana, khususnya di benua hitam Afrika, kedua agama ini benar-benar jor-joran memperluas pengaruh masing-masing.

Sementara di Eropa dan Amerika yang dikenal sebagai dunia Kristen, Islam pun telah mencatat pengikut-pengikut baru, baik dari penduduk asli, mau pun dari pendatang yang migrasi ke sana.

Inti pesan risalah para nabi dan rasul itu sebenarnya adalah tentang keesaan dan kemahakuasaan Tuhan, serta kepercayaan kepada akhirat. Iman seorang Muslim akan menjadi rusak jika tidak percaya kepada para nabi dan para rasul terdahulu, termasuk Nabi Musa dengan Kitab Tauratnya dan Nabi ‘Isa dengan Kitab Injilnya.

Musa dan ‘Isa dari Bani Israel, sedangkan Muhammad dari Bani Isma’il, semuanya keturunan nabi Ibrahim sebagai bapak monoteisme. Tetapi mengapa pengikut ketiga agama itu sulit sekali akur dan masih saja mencoraki hubungan Islam dan Barat sampai hari ini?

Sekalipun tuduhan brutal Barat terhadap nabi Muhammad sudah semakin melemah, berkat kajian ilmiah dari sarjana mereka, untuk mengakuinya sebagai nabi baru penerus Musa dan ‘Isa baru merupakan riak-riak kecil. Teologi Kristen khususnya, seperti konsep trinitas, status ketuhanan Yesus, dan dosa warisan memang tidak mungkin berdamai dengan teologi Islam yang bertumpu pada tauhid. Kritik Alquran terhadap teologi serupa itu memang keras, tetapi tidak perlu saya buka di sini.

Luka lama jangan diperlebar lagi. Maka, demi persaudaraan dan perdamaian universal, semua pihak mesti berangkat dari sebuah filosofi bahwa kemanusiaan itu tunggal. Perbedaan dalam teologi tidak boleh digunakan untuk merusak filosofi agung itu.

Alquran dalam surah al-Hajj ayat 40 bukan saja mengakui tentang kemanusiaan itu tunggal, bahkan lebih jauh ditegaskan bahwa nama Tuhan itu disebut di mana-mana, tidak hanya di masjid.

Kita kutip arti ayat itu: “…dan sekiranya Allah tidak memberi kemampuan kepada manusia untuk mempertahankan dirinya terhadap satu sama lain, maka  biara-biara (shawami’), gereja-gereja (biya’), sinagog-sinagog (shalawat), dan masjid-masjid pasti akan hancur berantakan, di dalamnya nama Allah banyak disebut. Dan sungguh Allah menolong siapa yang menolongnya. Sesungguhnya Allah Mahakuat, Mahaperkasa.”