Kiblat di Tangan Para Tiran (II)

13/11/2018 oleh : superadmin-pa
Kritik Khashoggi tidak setajam pendahulunya tetapi mengapa dibunuh?

REPUBLIKA.CO.ID Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Sudah sekitar 40 tahun saya tidak percaya lagi kepada sistem kerajaan, khususnya yang berkuasa di negeri Muslim, sekalipun ulama masih saja mendukungnya, sebuah dukungan yang tidak bisa dipisahkan dari kepentingan duniawi. Kritik Iqbal terhadap raja-raja Muslim puluhan tahun yang lalu, tetap menyengat sampai hari ini: “Tatapan raja-raja Muslim masa lampau semata-mata pada kepentingan dinasti mereka. Selama kepentingan itu terjamin, mereka tanpa ragu menjual negeri-negeri mereka kepada pihak penawar yang paling tinggi.” (Lihat: Annnemarie Schimmel, Gabriel’s Wing: A Study into the Religious Ideas of Sir Muhammad Iqbal. Leiden: E.J. Brill, 1963, hlm. 178).

Kelakuan para raja Muslim kontemporer ini tidak banyak bedanya dengan pendahulu mereka yang haus kekuasaan selain bergumul dengan pola hidup mewah dengan biaya negaranya masing-masing, termasuk sembilan raja di Malaysia. Raja-raja Arab Saudi sepenuhnya berada dalam kategori Iqbal itu.

Jika ada di antara mereka yang sedikit cerah, mungkin hanya Raja Faisal bin ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdurrahaman al-Sa’ud (1964-1975), tetapi dibunuh oleh keponakannya Faisal bin Musaid pada 25 Maret 1975 yang baru saja pulang dari Amerika. Raja Faisal dikenal sebagai pemimpin visioner yang tidak selalu taat kepada Amerika, menyimpang dari para pendahulunya. Juga sikap anti-Zionismenya sangat kuat dan berani. Sangat berbeda dengan penguasa sekarang, apalagi dengan kelakuan MBS.

Jika disandingkan dengan kritik alm Prof DR Abdullah Mohammad Sindi (warga Saudi kelahiran Makkah, 1944) terhadap dinasti Saud yang sangat mendasar, tajam, dan argumentatif, kritik Khashoggi terhadap kebijakan MBS, tidak ada apa-apanya, hanya ecek-ecek, tetapi mengapa harus dibunuh? Sindi sebagai pakar politik dan hubungan internasional sebelum wafat beberapa tahun yang silam masih diberi peluang mengajar pada beberapa univeritas di Arab Saudi, seperti di Jeddah dan Riyadh. Dia diberi kebebasan dan tidak dibunuh. Artinya, rezim sebelum MBS lebih toleran dibandingkan pangeran yang ugal-ugalan ini, tetapi mengapa ayahnya Raja Salman diam saja?

Saya harus menyarankan kepada pembaca untuk menyimak sendiri artikel Sindi, tahun 2004 yang masih segar dan releven tentang rezim Saudi dalam sumber berikut ini: “Britain, the Rise of Wahhabism, and the House of Saud,” (dalam Kana’an Bulletin, Vol. IV, No. 361, 16 Jan. 2004). Sebagai warga Saudi, Sindi telah membidik jantung kerajaan dengan tembakan analisis yang sungguh tepat sasaran. Sekali lagi, mohon dibuka internet untuk membaca artikel penting ini secara utuh!

Untuk sekadar memancing minat pembaca, saya terjemahkan alinea terakhir artikel Sindi itu: “Ikatan yang erat Wahhabisme dengan dan dukungan dari Dinasti Saud, yang secara luas telah diakui menjadi salah satu kelas penguasa di dunia yang paling brutal, korup, anti-demokrasi, dan feodal, menjadikan akuannya sebagai ‘mewakili bentuk Islam yang terbaik.’ Ini telah jadi sasaran cemooh dan ejekan Muslim. Sekarang banyak orang Arab yang terdidik dan kaum Muslimin merasa bahwa Wahhabisme memberikan Islam sebuah nama yang buruk, menggambarkan sebuah belenggu reaksioner yang menghalangi orang Arab dan Muslim untuk maju. Sungguh, di kalangan sarjana-sarjana Sunni selama 250 tahun yang silam, baik yang konservatif maupun yang liberal, di seluruh dunia Muslim yang membentang dari Maroko sampai ke Indonesia, sebagaimana juga golongan Syi’ah dan Sufi, telah menolak Wahhabisme sejak kelahirannya sebagai suatu perubahan bentuk Islam yang mengerikan.”

Khashoggi yang malang itu tidak pernah menulis artikel yang sedahsyat ini. Dia masih sangat Saudian, mencintai kerajaannya dengan sepenuh hati, tetapi harus dibayarnya dengan nyawa. Apakah ada kebiadaban yang lebih kumuh dari tragedi ini?

Mata dunia tak diragukan lagi tertuju ke episentrum dari kejahatan ini terpusat pada kekuatan pengawal Ka’bah yang menjadi arsitek utamanya. Para eksekutor yang sengaja diterbangkan dari Riyadh tidak lebih dan tidak kurang hanyalah bertindak sebagai pesuruh belaka.

Akhirnya, dunia Muslim tidak boleh lagi tertipu oleh propaganda Wahhabisme yang telah semakin mengacaukan situasi yang memang sudah telanjur kacau. Kesaksian seorang Prof Abdullah Mohammad Sindi harus dipertimbangkan untuk meneropong corak Islam dalam kungkungan Wahhabisme yang aneh dan menyimpang itu. Atau dalam istilah Sindi: “a horrible deformation of Islam.” Dan khusus untuk Saudi, setidaknya untuk masa transisi, kita berharap akan muncul seorang pemimpin seperti Raja Faisal bin ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdurrahman al-Saud, jika kerajaan itu masih bisa bertahan.

Sumber: https://republika.co.id/berita/kolom/resonansi/18/11/13/pi3zbl440-kiblat-di-tangan-para-tiran-ii