Drama Politik Malaysia (IV)

21/08/2018 oleh : superadmin-pa
Mahathir adalah seorang petarung dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi

REPUBLIKA.CO.ID Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Dua seri terakhir Resonansi tentang drama politik Malaysia akan memusatkan perhatian pada hubungan Mahathir Mohamad dan Anwar Ibrahim, dua aktor yang akan menentukan nasib masa depan negeri jiran itu. Aktor-aktor yang lain juga penting, tetapi pengaruhnya berada di bawah dua tokoh puncak ini.

Anwar Ibrahim kelahiran 10 Agustus 1947 di Bukit Martajam, Pulau Penang, punya perbedaan usia 22 tahun dengan Mahathir. Kalaulah Mahathir tidak mengajak Anwar masuk UMNO dan BN, kemudian tega “mengusirnya” secara tragis, tentu drama politik Malaysia tidak akan hiruk seperti yang kita kenal selama ini.

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, Mahathir tidak bisa digurui, apalagi dilakukan oleh seorang yang jarak umurnya demikian jauh. Kabarnya konon, Anwar atas dorongan pendukung-pendukungnya yang fanatik memang ingin menggantikan posisi Mahathir secepatnya, tetapi mereka salah baca.

Sang mentor, sekalipun autokrat, dalam bacaan Allen Lopez yang ditulis beberapa hari sebelum pilihan raya pada 9 Mei adalah: Seorang yang kukuh dalam keyakinan, mantan perdana menteri itu cerdas luar bisa dan memiliki etik kerja tanpa kenal lelah. Dinilai dari segala sisi, dia adalah seorang yang taqwa, dengan moralitas pribadi yang bahkan tak tercemar oleh tanda skandal. Barangkali, yang terpenting, dia adalah seorang patriot sejati. (https://aliran.com/thinking-allowed-online/back-in-the saddle-mahathirs-last-battle).

Allen benar, Mahathir adalah seorang petarung dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Dengan watak yang semacam ini, Mahathir sering sulit untuk menerima perbedaan pendapat, apalagi datang dari “anak asuhannya”.

Anwar sebenarnya punya karakter yang mirip, tetapi kurang sabar dalam menjaga hubungan dengan mentornya. Risikonya, keduanya pecah kongsi selama beberapa tahun, kemudian karena didorong oleh semangat perlawanan terhadap rezim Najib, kongsi itu disambung kembali.

Hebatnya, untuk melengserkan rezim Najib, Mahathir dan Anwar harus berbaik lagi. Najib dengan siasat “cash is king” semula mengira bahwa kucuran ringgit kepada sementara politisi Malaysia akan bisa melanggengkan usia rezim BN, tetapi ternyata siasat ini gagal total.

Setelah keluar dari penjara pascakemenangan PH (Pakatan Harapan), dalam konferensi pers Anwar mengatakan tidak punya dendam terhadap Mahathir, juga tidak dengan Najib Razak yang juga memenjarakannya dengan mengulang tuduhan sodomi kepadanya. Di Malaysia, isu sodomi merupakan keris yang sangat tajam untuk melumpuhkan saingan politik.

Hukuman Mahathir terhadap Anwar yang kurang sabar tampaknya telah dimaafkan. Keduanya sudah berjabat tangan pada 22 September 2016. Bahwa Anwar telah menderita lama, dunia pun sudah tahu dan memprotesnya, tetapi tetap tak diacuhkan.

Berhadapan dengan autokrasi Mahathir saat itu tak seorang pun yang bisa melawannya. Apalagi, Anwar bukanlah kader asli UMNO. Banyak pihak yang mencemburuinya, mengapa Mahathir memungut dan memberinya posisi penting dalam pemerintahan.

Seperti manusia lain di muka bumi yang tak pernah meraih tingkat kesempurnaan, manusia Melayu pun berada dalam kategori ini. Bisa hidup bersama secara mesra saat kepentingan masing-masing tidak terusik. Sekali terganggu, kemesraan bisa berubah menjadi kebencian.

Tidak banyak manusia yang bisa bebas dari pasungan ego yang sempit ini. Mereka yang mampu, mengutip Iqbal, adalah emas murni. Jumlahnya minoritas di planet kita ini.

Sumber: https://republika.co.id/berita/kolom/resonansi/18/08/21/pdsc7w440-drama-politik-malaysia-iv