Ahmad Syafii Maarif (ASM) School of Political Thought and Humanity bekerjasama dengan Program Studi Doktor Politik Islam-Ilmu Politik mengadakan diskusi pakar dengan tema  “New Methodology in Understanding Qur’an” bertempat di Ruang Sidang Direktur Pascasarjana UMY Lt. 1, Kamis, (21/9/2017).

Acara  ini merupakan respon atas presentasi Mun’im Sirry di Kuala Lumpur pada bulan Agustus lalu. Diskusi ini dimoderatori oleh Prof. Dr. Abdul Munir Mulkham dan dihadiri beberapa pakar: Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif (Buya Syafii), Dr. Hamim Ilyas, Dr. Ustadi Hamzah, Dr. Hasse J., M.A, Dr. Mega Hidayati, Dr. Ahmad Sahide dan Dr. Muhammad Azhar, M.Ag.

Buya Syafii menekankan bahwa dunia Islam mengalami kebuntuan dan umat Islam terhempas di titik nadir peradaban, terutama Arab. Ada yang salah dengan umat Islam dalam pemahaman terhadap al Quran dan beragama. Al-Azhar yang menjadi rujukan dunia Islam berabad-abad itu, hasil pemikiran tidak berjalan. “Para pembaharu itu dilapisan atas tetapi rakyat jelata menikmati kebodohannya”, jelas Buya.

Beliau memandang, penting sekali bagi Muhammadiyah dan NU yang mempunyai massa di akar rumput untuk menyampaikan pemahaman baru ke lapisan akar rumput. “Dibutuhkan strategi yang tidak sederhana sehingga tidak menimbulkan kehebohan”,ungkap Buya.

“Dalam bersahabat dengan al Quran terdapat 2 syarat yaitu Aklun Nur Syahid (akal) dan Qalbun Syahid (hati). Jika kedua syarat tidak terpenuhi maka al Quran tidak mau bersahabat dan membuka diri”, tambah Buya.

Dr. Hamim Ilyas mengungkapkan bahwa turunnya al Quran tidak dalam ruang yang vakum budaya tetapi ada konteks  dan asbabul nuzulnya. Terdapat 2 teori besar asbabul nuzul al Quran yaitu mikro dan makro. Latar belakang asbabul mikro berupa peristiwa yang menyangkut orang perorang, orang dengan kelompok, atau kelompok dengan kelompok. Sementara, latar belakang asbabul makro bukan peristiwa tetapi situasi dan kondisi yang melatarbelakangi turunnya ayat-ayat dan surat-surat al Quran.

Sebagai penutup diskusi ini, Buya Syafii menekankan bahwa fungsionalitas al Quran sebagai hudalinnaas dan hudalilmuttaqin dapat dijabarkan di muka bumi. Selain itu, penekanan perbuatan yang terdapat di al Quran memerlukan hal-hal yang konkrit agar sampai ke peradaban. Senada dengan Buya, Hamim menutup diskusi dengan menekankan bahwa kita membutuhkan pemahaman baru dalam penafsiran al Quran.